Pages

Tuesday, November 8, 2011

At-Thufail Bin 'Amr Ad-Dausi

“Ya Allah turunkanlah satu ayat untuknya agar dapat membantunya untuk setiap kebaikan yang dia niatkan.”(salah satu doa Rasulullah ` kepada Thufail)

Thufail bin Amr ad-Dausi adalah salah seorang pemuka suku ad-Daus pada masa jahiliyyah. Dia juga termasuk salah seorang tokoh di kalangan penduduk arab yang mempunyai derajat yang tinggi. Thufail merupakan salah seorang di antara orang sekian banyak orang yang mempunyai keindahan akhlak.

Bejana miliknya tidak pernah diangkat dari api, pintunya tidak pernah tertutup bagi siapapun yang mengetuk pintu rumahnya. Sa’id selalu memberi makan orang-orang yang lapar, memberikan keamanan bagi orang yang sedang dilanda ketakukan dan memberikan tempat tinggal bagi orang yang memerlukannya.

Thufail bin Amir adalah ahli sastra yang sangat cerdas dan pandai; salah seorang ahli syair yang dapat menajamkan perasaan. Perasaannya sangat lembut, sangat mengetahui kata-kata yang manis dan kata-kata yang pedas. Thufail sangat mengetahui kata-kata yang bisa menarik perhatian.

Thufail meninggalkan perkampungannya di Tihamah menuju Makkah. Pada waktu itu terjadi pertikaian antara nabi Muhammad dengan orang-orang Kafir Quraisy. Masing-masing dari mereka mencari orang yang dapat menolongnya. Mereka juga saling mencari orang-orang yang dapat membantu kelompok mereka. Adapun Rasulullah selalu meminta pertolongan kepada Allah, sedangkan senjatanya adalah kebenaran dan keimanan. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy  memerangi dakwah Rasulullah  dengan berbagai senjata yang ada dan menghalang-halangi manusia dari dakwahnya dengan segala cara.

Thufail menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa persiapan. Dia masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa tujuan yang jelas.
Thufail  pergi ke Makkah tidak bermaksud untuk mengikuti peperangan tersebut. Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya masalah orang-orang Quraisy dengan nabi Muhammad.

Dari peperangan inilah terdapat sejarah tentang Thufail bin Amr yang tidak pernah terlupakan. Marilah kita semak kisah-kisahnya,  karena ini merupakan sebuah kisah yang sangat menarik. 

Thufail bercerita: Aku pergi menuju Makkah, sesampainya di Makkah para pembesar Quraisy segera mendekatiku dan menyambutku dengan sambutan yang sangat hangat. Mereka mengajakku untuk singgah di rumah orang yang paling mulia di antara mereka.

Para pembesar dan pemuka Quraisy berkumpul padaku dan berkata, “Wahai Thufail, sungguh engkau sudah mendatangi negeri kami. Perlu kamu ketahui bahwa orang yang mengaku nabi tersebut sudah merusak urusan dan memecah belah hubungan kami serta mencerai-beraikan persatuan kami. Sesungguhnya kami sangat khawatir jika Muhammad masuk ke dalam negerimu dan memecah belah para pemuka negerimu sebagaimana yang terjadi pada kami. Janganlah engkau mendengarkan perkataan orang tersebut (Muhammad), karena perkataanya sangat memikat laksana sihir. Muhammad akan memisahkan antara seorang anak dan ayahnya, antara satu saudara dengan saudara lainnya, dan antara suami dengan istrinya.”

Thufail berkata, “Demi Allah orang-orang Quraisy selalu menceritakan kepadaku kisah-kisah yang aneh tentang nabi Muhammad. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan perilaku Muhammad yang aneh, hingga aku bertekad untuk tidak mendekati Muhammad, mengajak berbicara maupun mendengar perkataannya. Dan ketika aku pergi ke masjid untuk thawaf di Ka’bah dan  meminta berkah kepada semua berhala yang ada di sana, aku menutupi kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar sedikitpun perkataan Muhammad.

Akan tetapi ketika aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati Rasulullah sedang melakukan shalat yang berbeda dengan shalat kami dan melakukan peribadatan di Ka’bah yang berbeza dengan peribadatan kami. Lalu tanpa sadar aku mendekatinya sedikit demi sedikit.

Dan ternyata Allah berkehendak lain. Sebagian perkataan Muhammad sampai di telingaku. Aku mendengarkannya dan ternyata perkataan itu sangat indah sekali. Aku berkata dalam diriku, “Wahai Thufail celaka kamu, sungguh engkau adalah ahli sastra yang sangat pandai sekali. Engkau mampu  membedakan kebaikan dan kejelekan. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki (Muhammad) itu? Jika yang dia katakan adalah baik, maka aku akan menerimanya. Dan apabila yang dia katakan adalah jelek, maka aku akan  meninggalkannya.

Thufail melanjutkan ceritanya, Lalu aku tetap tinggal di tempat tersebut hingga Rasulullah pulang ke rumahnya. Dari belakang aku mengikuti Rasulullah. Dan ketika beliau masuk ke dalam rumahnya, aku juga turut masuk. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya semua kaummu berkata kepadaku bahwa kamu adalah begini dan begitu. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku hingga aku menyumpalkan kapas ke dalam kedua telingaku agar aku tidak mendengar perkataanmu. Namun Allah menghendaki aku mendengar sedikit perkataanmu. Aku dapati perkataanmu sangat indah. Sampaikan kepadaku tentang urusanmu.”

Lalu Muhammad menjelaskan masalahnya kepadaku dan membacakan surat al-Ihlas dan al-Falaq kepadaku. Demi Allah aku tidak pernah mendengar perkataan yang lebih baik dari perkataan tersebut. Aku belum masalah yang lebih  adil dari urusan Muhammad. Seketika itu juga aku membentangkan kedua tanganku dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah  melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Lalu aku masuk Islam.

Aku tinggal di Makkah beberapa saat. Aku belajar agama Islam dan menghafal beberapa ayat yang mudah aku hafal. Dan ketika aku berniat kembali menemui kaumku aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku adalah orang yang sangat ditaati oleh kaumku. Aku akan pulang menemui mereka dan menyeru mereka agar masuk ke dalam Islam. Berdoalah kepada Allah agar memberikan tanda kepadaku yang membantuku untuk menyeru mereka ke dalam Islam.” Lalu Rasulullah berdoa, “Ya Allah berikanlah tanda padanya.”

Lalu aku pergi menemui kaumku. Dan ketika aku berada di sebuah tempat yang mulia di rumah mereka, terdapat cahaya yang berada di antara kedua mataku. Cahaya itu seperti cahaya lampu. Aku berdoa, “Ya Allah janganlah engkau meletakkan cahaya itu di antara kedua mataku. Aku takut jika mereka mengira bahwa tanda itu adalah siksa karena aku meninggalkan agama mereka.

Akhirnya cahaya itu berpindah ke ujung cemetiku. Semua manusia menyaksikan cahaya itu. Seakan-akan cahaya tersebut adalah sapu tangan yang tergantung di ujung cemetikul. Lalu aku turun menemui mereka dari bukit. Ketika aku turun dari bukit ayahku menemuiku. Ayahkan adalah orang yang sudah sangat tua renta. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai ayahku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau  pemeluk agamaku.” Ayahku bertanya, “Mengapa bisa begitu wahai anakku?” Aku menjawab, “Aku sudah masuk ke dalam agama Muhammad." Ayahku menjawab, “Wahai anakku, agamaku adalah agamamu.” Aku bertanya, “Mandilah engkau wahai ayahku kemudian dan sucikanlah pakaianmu. Setelah itu datanglah kepadaku. Aku akan mengajarimu apa yang sudah diajarkan kepadaku.” Kemudian ayahku pergi dan mandi. Setelah itu ayahku datang padaku. Lalu aku menawarkan Islam padanya. Akhirnya ayahku masuk ke dalam agama Islam.

Setelah itu datanglah istriku. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai istriku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau pemeluk agamaku.” Istriku bertanya, “Demi ayah dan ibuku, ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Agama Islam telah memisahkan antara diriku dan dirimu. Aku telah menganut agama nabi Muhammad.” Istriku menjawab, “Agamaku adalah agamamu juga.” Lalu aku berkata, “Pergilah dan bersucilah dengan menggunakan air Dzis SyaraDzi Syara adalah nama sebuah patung milik kabilah Daus. Di sekelilingnya terdapat air yang mengalir dari gunung. Lalu istriku berkata, “Demi ayah dan ibuku, tidakkah engkau sedikitpun takut pada  Dzi Syara jika berbuat sesuatu kepada perempuan?” Aku berkata, “Demi Dzat Yang memiliki Dzi Syaro, celakalah kamu, aku perintahkan kepadamu, pergilah dan mandilah di tempat yang jauh dari manusia. Aku yang akan menjaminmu bahwa batu yang tidak berdaya itu tidak akan berbuat sedikitpun kepadamu.” Akhirnya istriku pergi dan bersuci lalu datang lagi kepadamu. Aku menawarkan agama Islam kepadanya dan diapun masuk ke dalam agama Islam.

Kemudian aku berdakwa kepada kabilah Daus. Dan aku dapati mereka lambat sekali menerima seruanku kecuali Abu Hurairah. Dia adalah orang yang paling cepat sekali menerima dakwahku.

Thufail melanjutkan ceritanya, Lalu aku pergi menghadap Rasulullah di Makkah. Aku pergi bersama Abu Hurairah. Lalu nabi bertanya kepadaku, “Apa yang kau hadapi wahai Thufail?” Aku menjawab, “Hati yang tertutup oleh tirai penghalang kebenaran, dii atasnya terdapat kekufuran yang sangat besar. Sungguh penduduk Daus sudah terkalahkan oleh kefasikan dan kemaksiatan.”

Lalu Rasulullah berdiri kemudian mengambil air wudlu dan menunaikan shalat. Setelah selesai menunaikan shalat, beliau mengangkat tangannya ke atas langit. Abu Hurairah berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah melakukan hal tersebut aku sangat takut jika beliau mendoakan kejelekan kepada kaumku kemudian mereka binasa.” Lalu aku berkata, “Alangkah celakanya kaumku.” Namun ternyata Rasulullah berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus.”

Lalu Rasulullah memalingkan wajahnya kepada Thufail dan berkata, “Pergilah menemui kaummu dan bimbinglah mereka kemudian ajaklah mereka masuk ke dalam Islam.”

Thufail berkata, “Dan ketika aku kembali pada kaumku, ternyata waktu itu juga Rasulullah hijrah ke Madinah. Sesudah itu terjadilah perang Badar, Uhud dan Khandaq. Lalu aku menghadap Rasulullah  dan aku membawa delapan puluh rumah kabilah Daus dalam keadaan Islam dan Islam mereka sudah sangat bagus. Melihat hal tersebut Rasulullah merasa senang dengan kami. Lalu Rasulullah memberikan kepada kami dan juga umat Islam ghanimah dari perang Khaibar. Kami berkata, “Wahai Rasulullah jadikanlah kami pasukan sayap kananmu di setiap peperangan. Berilah kami gelar “Al-Mabrur”.

Thufail berkata, “Aku tetap tinggal bersama Rasulullah hingga terjadilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, utuslah aku pada Dzil Kafain, (berhala milik Amr bin Hamamah). Aku akan membakarnya. Rasulullah mengizinkannya. Lalu Thufail pergi bersama satu rombongan ekspedisi (sariyyah) dari kalangan kaumnya menuju patung-patung kabilahnya.

Ketika Thufail telah sampai di patung tersebut dan hendak membakarnya, para wanita, laki-laki dan anak-anak berkumpul di sekelilingnya.  Mereka menunggu petaka yang akan menimpa Thufail. Mereka menunggu datangnya petir yang akan menyambarnya jika dia mencelakakan patung mereka yang bernama Dzil Kaffain.

Akan tetapi Thufail menghadap patung tersebut dalam keadaan disaksikan oleh para pemujanya. Lalu Thufail menyalakan api tepat di hatinya seraya berkata dengan kasar, “Wahai Dzil Kaffain, aku bukanlah pemujamu. kelahiran kami lebih dulu daripada kelahiranmu. Sungguh aku telah mengisi hatimu dengan kobaran api.”

Seketika itu juga api melahap patung tersebut bersamaan dengan itu terlahap pula kesyirikan kabilah Daus. Akhirnya seluruh penduduk kabilah Daus memeluk Islam dan kualitas Islam mereka sangat bagus.

Setelah itu Thufail selalu berada di dekat Rasulullah  hingga beliau menghadap Allah. Dan ketika tampuk kepemimpinan beralih pada sahabat beliau yang bernama Abu Bakar, Thufail menyerahkan sepenuh dirinya, pedangnya dan anak-anaknya untuk taat kepada khalifah Rasulullah.

Ketika perang Riddah berkecamuk untuk memerangi orang-orang yang murtad, Thufail ikut serta dalam pasukan kaum Muslimin untuk memerangi pasukan Musailamah al-Kadzâb beserta anaknya yang bernama Amr.

Dalam perjalanannya ke Yamamah Thufail bermimpi. Lalu dia bertanya kepada para sahabatnya, “Sungguh aku bermimpi. Tolong tafsirkanlah mimpi tersebut.” Para sahabatnya bertanya, “Engkau bermimpi melihat apa?” Thufail menjawab, “Aku bermimpi bahwa kepalaku dicukur gundul dan ada burung yang keluar dari mulutku, lalu ada perempuan yang memasukkanku ke dalam perutnya. Pada waktu itu datanglah putraku, Amr. Dia memintaku untuk bersegera namun dia dihalang-halangi dariku.”

Lalu mereka berkata, “Itu adalah tanda yang baik.” Lalu Thufail berkata, “Demi Allah aku sudah menafsirkan mimpi tersebut. Adapun mengenai kepala yang dicukur, maka itu menunjukkan kepala yang akan dipotong. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku, maka itu adalah nyawa yang keluar dari jasadku. Sedangkan perempuan yang memakanku tafsirnya adalah bumi yang akan memakan jasadku setelah dikuburkan. Sungguh aku sangat berharap untuk mati syahid. Sedangkan permintaan anakku kepadaku maka tafsirnya adalah, anakku meminta mati syahid sebagaimana aku, dan ternyata Allah mengizinkannya namun terjadi sesudahku.”

Dalam peperangan Yamamah sahabat yang mulia, Thufail bin Amr mendapatkan ujian yang sangat besar sekali. Hingga dia tersungkur mati syahid di tanah peperangan. Sedangkan putranya yang bernama Amr masih terus berperang hingga merasa lemah karena banyaknya luka yang ada di tubuhnya. Telapak tangan kanannya putus. Dia pulang dari Yamamah dalam keadaan kehilangan ayahnya dan telapak tangannya yang kanan.

Suatu hari  pada masa kekholifahan Umar bin Khattab Amr bin Thufail masuk ke rumah Umar Al-Faruq. Lalu dihidangkan makanan di depannya. Semua orang duduk di sekeliling Umar. Umar mengajak mereka untuk menyantap makanan tersebut. Lalu Amr menyingkir dari makanan tersebut. Akhirnya Umar al-Faruq bertanya padanya, “Apakah kamu menyingkir karena malu dengan tanganmu yang putus tersebut?” Amr menjawab, “Betul wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyantap makanan ini hingga engkau mencampurnya dengan tanganmu yang terputus terputus. Demi Allah tidak ada seorangpun yang anggota badannya sudah berada di surga kecuali engkau. (yang dimaksud Umar adalah tangannya yang sudah mendahuluinya masuk ke dalam surga).

Bayang-bayang kesyahidan selalu terlihat oleh Amr semenjak kesyahidan ayahnya. Dan ketika terjadi peperangan Yarmuk, seketika itu juga dia bersegera bersama kaum Muslimin untuk berperang hingga meraih kesyahidan yang telah lama dia dan ayahnya idam-idamkan.

Semoga Allah melimpahkan belas kasihnya kepada Thufail bin Amr ad-Dausi. Sungguh dia telah mati syahid, dia adalah ayah yang memiliki putra yang juga mati syahid.

Sunday, October 30, 2011

.: Abu Bakar As-Siddiq :.

Nama sebenar : Abdullah Bin Abi Quhafah

Dilahirkan di Mekah pd th 572 masihi, 2 tahun selepas kelahiran Rasulullah

Merupakan lelaki dewasa pertama memeluk Islam

Setelah memeluk Islam beliau digelar Abu Bakar kerana beliaulah org yg mula-mula beriman dgn dakwah Rasulullah, digelar Abu Bakar juga yg bermaksud unta muda kerana beliau suka menternak unta

Diberi gelaran 'As- Siddiq' kerana sentiasa yakin dan membenarkan setiap apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.

Kata Saidina Abu Bakar, ketika menceritakan suatu kisah mengenai dirinya kepada Ibnu Mas'ud, "Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak murid. Dia berkata kepadaku:

"Aku kira tuan datang dan Tanah Haram.

"Benar, jawabku.

"Aku kira tuan berbangsa Quraisy?

"Benar, ujarku lagi.

"Dan apa yang aku lihat, tuan dan keluarga Bani Taiyim?

"Benarlah begitu, tambahku selanjutnya.

Orang tua itu terus menyambung, katanya, "Ada satu lagi hal yang hendak aku tanyakan dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak keberatan jika aku lihat perutmu?

Maka pada ketika itu aku pun berkata, "Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.

Maka ujar orang tua itu, "Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh dua onang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separuh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang kesusahan. Sementara yang separuh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.

Maka sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata, "Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!

Kemudian orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk beberapa waktu kerana mengurusi perniagaanku dan sebelum meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, "Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?

"Boleh sahaja, jawabku.

Setelah itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, "Adakah engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula, "Apakah yang terjadi itu?

Jawab mereka, "Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.

Kemudian aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, "Wahai Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tuan dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dan kepercayaan nenek moyang kita.

Maka ujar baginda, "Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian ummat!

Aku pun bertanya kepada baginda, "Apa buktinya?

Jawabnya, "Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.

Aku menambah lagi, "Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?

Baginda menyambung, "Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!

Aku terkejut mendengarkannya lalu bertanya, "Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?

Maka ujar baginda, "Malaikat yang pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.

Akhirnya aku berkata, "Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad) sebenarnya Pesuruh Allah.

Keislaman Saidina Abu Bakar telah membawa penganuh besar di kalangan kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya itulah maka beberapa orang pemuda bangsawan Quraisy seperti Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf, dan Saad Bin Waqqas menuruti jejak langkahnya. Semenjak beliau memeluk Islam, Saidina Abu Bakar. telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W

Semasa Rasulullah sedang sakit tenat, baginda mengarahkan supaya Saidina Abu Bakar mengimamkan solat kaum muslimin. Setelah Rasulullah wafat. Kaum Ansar telah berkumpul di Balai Bani Saadah dan memilih Saad Ibn Ubadah untuk mengantikan tempat Rasulullah. Setelah tindakan Kaum Ansar diketahui umum, Saidina Abu Bakar, Umar dan sekumpulan muhajirin telah ke Balai Bani Saadah untuk menjelaskan soal perlantikan khalifah. Keputusan kaum Ansar itu tidak boleh diterima kerana ia bukan keputusan majoriti umat Islam, hanya keputusan dari pihak Ansar sahaja. Hal ini boleh membawa perpecahan kepada umat Islam.

Dalam pertemuan ini Abu Bakar bercadang untuk memilih salah seorang dari dua sama ada Umar al Khattab atau Abi Ubaidah bin Jarrah. Manakala pihak Ansar mencadangkan supaya dilantik khalifah seorang daripada Ansar dan seorang lagi daripada Muhajirin.

Kemudian Basyir bin Saad dari golongan Ansar bangun dan meminta Abu Bakar menghulurkan tangan dan berkata " Aku baiah kamu sebagai khalifah",serta diikuti oleh Umar al Khattab dan semua umat Islam yang hadir.

Dengan peristiwa ini maka rasmilah perlantikan Abu Bakar menjadi Khalifah Islam pertama pada tahun 632 m (11 hijrah) dan memerintah Negara Islam selama 2 tahun 3 bulan (Secara persetujuan ramai umat Islam)

Masalah mula timbul apabila Saidina Abu Bakar dilantik menjadi Khalifah. Masalah tersebut menggugat kestabilan dan keamanan kerajaan Islam. Banyak puak Arab memberontak dan menentang perlantikan Khalifahnya. Sesetengah daripada mereka enggan membayar zakat, manakala ada juga yang kembali kepada menyembah berhala dan mengikut tradisi lama mereka.

Puak-puak itu mendakwa bahawa mereka hanya menurut perintah Rasulullah dan memandangkan Rasulullah telah wafat maka mereka tidak perlu lagi mengikut ajaran Islam dan mereka telah bebas. Saidina Abu Bakar menegaskan bahawa mereka bukan sahaja menyatakan taat sembah kepada seorang pemimpin malah mereka kini tergolong dalam golongan muslim.

Ada di antara mereka mendakwa mereka ialah nabi dan rasul. Bagi menumpaskan penghinaan dan perbuatan murtad itu, Saidina Abu Bakar melancarkan peperangan terhadap golongan yang digelar golongan riddah. Maka bermulalah Perang Riddah. Antara orang yang mengaku menjadi nabi ialah Musailamah. Khalid al-Walid berjaya menumpaskan Musailamah dalam suatu pertempuran.

Saidina Abu Bakar menemani Rasulullah dalam peristiwa Hijrah. Semasa di Gua Thur, Abu Bakar telah terpandang seekor ular keluar dari lubang berhampiran tempat rasulullah tidur. Beliau lantas menutup lubang tersebut dengan kakinya kerana bimbang ular itu akan mematuk kaki Rasulullah. Lantaran menahan kesakitan dipatuk ular air matanya terjatuh ke pipi Rasulullah dan baginda terjaga dari tidurnya. Peristiwa pengorbananya ini tercatat di dalam al Quran dalam Surah At- Taubah :ayat :40

InsyaAllah, dengan mempelajari sirah dan tauladan daripada sahabat2 Rasulullah kita dapat memperbaiki diri kita seterusnya bersemangat untuk melakukan kerja-kerja seharian kita berdasarkan niat kerana Allah SWT. Wallahu’alam J

Daripada Medic dentist~ >_<

Wednesday, October 19, 2011

Saudagar Allah.


Abdul Rahman Bin
Auf adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang akrab. Beliau juga adalah
salah seorang sahabat Rasulullah yang terkaya sebagaimana juga halnya dengan
Saiyidina Uthman Bin Affan r.a. Beliau dilahirkan 10 tahun sesudah tahun gajah
dan beliau hidup sebagai seorang pemuda Quraisy dikota Mekah yang ketika itu
penuh dengan bermacam-macam kemaksiatan jahiliah namun, Abdul Rahman masih
terpelihara daripa perkara maksiat & percaya bahawa minum arak adalah
perkara terlarang.

Abdul Rahman Bin
Auf telah memeluk Islam sebelum Rasulullah s.a.w memasuki Darul Arqam lagi.
Dengan hal demikian nyatalah bahawa beliau tergolong orang-orang Islam yang
permulaan dan menurut riwayat beliau adalah orang yang 8 dan orang-orang
permulaan yang memeluk Islam. Subhanaalh, seronok kan dapat hidayah dari Allah
macam ni ;)

Ibu beliau
menentang hal ini & mengatakan, "Aku akan berjemur dipanas matahari
yang terik di waktu siang dan di waktu malam yang sejuk aku akan bermalam
diruang lapang, hinggalah engkau mengaku akan kembali semula kepada agama nenek
moyangmu. Dimikian ibunya mengancam. Sungguhpun begitu Abdul Rahman Bin Auf
tetap tegak memeluk ugama suci dan mencintai Rasulullah S.A.W.

Nama asal Abdul
Rahman sebelum beliau memeluk Islam ialah Abdul Ka'abah. Sebagai seorang
sahabat Rasulullah yang akrab, Abdul Rahman mempunyai satu keistimewaan yang
khas iaitu berjuang untuk menegakkan agama Allah bukan saja dengan pedangnya
bahkan dengan harta dan kekayaannya.

Sungguh beliau
memang seorang pedagang yang berbakat dan pintar. Dalam sekejap masa saja
beliau berjaya menunjukkan keahliannya dalam berdagang hingga berjaya
memperoleh harta yang banyak.

Memandangkan jasa
dan pengorbanan menegakkan Islam dengan hanta kekayaannya Rasulullah S.A.W
pernah bersabda, "Abdul Rahinan Bin Auf adalah
saudagar Tuhan " sebagai memujinya atas peranannya menegakkan ugama
Allah dengan harta kekayaan. Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya
mereka yang memelihara keluarga saya setelah saya meninggal dunia adalah
manusia yang benar dan manusia yang mempunyai kebajikan. Dalam hal ini Abdul
Rahmanlah salah seorang sahabat yang menyahut seruan Rasulullah s.a.w kerana
beliaulah yang menyiapkan kemudahan untuk Ummul Mu'minin dalam melakukan ibadah
haji dibawah lindungan beliau.

Disamping memiliki
kekayaan yang melimpah-limpah beliau adalah seorang yang takut dan benci kepada
harta kekayaan dan selalu menghindarkan din dan penganuh kekayaannya. Adalah
diriwayatkan bahawa pada suatu han Abdul Rahman Bin Auf menangis tersedu-sedu
lalu ia ditanyai orang apakah yang menyebabkan beliau menangis itu, lalu
dijawabnya, "Sesungguhnya Mas'ab adalah lebih baik daripadaku kerana ia
meninggal dunia di zaman Rasul dan diwaktu meninggal dunia ia tidak memiliki
sepotong kain yang dapat dijadikan kafan untuk membungkusnya. Sesungguhnya
Hamzah Bin Muttalib adalah manusia yang lebih utama daripada saya padahal ia
tidak mempunyai kain yang dapat dijadikan kafan untuk memakamkannya.

Saya khuatir saya
ini termasuk di antara orang-orang yang dipercepat untuk menikmati kebahgiaan
dunia fana ini dan saya khuatir bahawa saya akan tersisih daripada para sahabat
Nabi diAkhirat kelak disebabkan kerana saya mempunyai banyak harta.

Dalam satu riwayat
yang lain pula diceritakan orang bahawa tatkala Abdul Rahman Bin Auf memberikan
makanan kepada tamunya beliau tiba-tiba menangis lalu ditanyai orang,
"Mengapakah engkau menangis hai Ibnu Auf ?" Ia lalu menjawab,
"Nabi telah wafat, sedangkan ia dan keluarganya tidak pernah kenyang oleh
roti gandum.

Dizaman Khalifah
Umar Al Khattab, Abdul Rahman Bin Auf telah memperoleh kehormatan dan keutamaan
di sisi Khalifah. Beliau jugalah salah seorang yang telah diwasiatkan oleh
Khalifah Umar Al Khattab sebelum kewafatan beliau menjadi salah seorang ahli
dalam majlis jawatankuasa di antara enam orang anggota bagi memilih calon
khalifah yang akan menggantikan baginda. Beliaulah juga tokoh yang mengetuai
tugas untuk menentukan siapakah yang bakal menggantikan Khalifah Umar Al
Khattab sebagai khalifah ketiga umat Islam yang akhirnya jatuh ketangan Saiyidina
Uthman Bin Affan r.a.

Pada tahun 31
Hijrah ketika usia 75 tahun beliau meninggal dunia. Dan sebelum meninggalnya,
Ummul Mu'minin Aisyah telah menawarkan bahawa jika ia menghendakinya akan
ditempatkan kuburannya nanti di sisi kuburan Nabi, Abu Bakar dan Umar r.a.
Dengan suara yang merendah diri ia menjawab bahawa ia malu jika diberi
kedudukan yang sedemikian tingginya untuk berkubur di samping Rasul.

***Subhannallah,
terkilan rasanya melihat betapa besarnya jasa Abdul Rahman dalam jalan Allah.
Bagi pendapat saya, apa yang telah saya pelajari dari beliau ialah, setiap
perbuatan yang kita lakukan atas dasar kerana Allah, pasti ada balasan baik
yang berlipat kali ganda banyaknya. Tak kisahlah kalau semua harta kita habis
kerana fisabilillah, insyallah, sesungguhnya Allah maha mengetahui. Balasan apa
yang lebih besar, daripada dijamin masuk ke syurga bukan???
medicdentist:)

Saturday, October 15, 2011

Sa'ad bin Abu Waqqas

Sa’ad bin Abu Waqqas dilahirkan di Makkah pada tahun 595M. Sa’ad berasal dari keluarga terhormat dan merupakan bapa saudara rasulullah SAW dari belah ibu. Sa’ad banyak berbakti kepada orang tua dan sangat sayangkan ibunya.

Pada usia remaja,Sa’ad tidak pernah tertarik dengan permainan2 yang disukai oleh pemuda sebayanya. Sa’ad lebih sibuk mengurus anak panah,memperbaiki busar dan belajar membidik seolah-olah sedang persiapkan diri untuk berperang.

***permainan zaman ni sgt extreme dan ada yg melalaikan. Kita kene lah pandai memilih hobi @ permainan yg baik2 bagi mengisi masa lapang. Pilihlah aktiviti yang menguntungkan agama kita,takpun janganlah pilih ativiti yg merosakkan agama kita. Sesungguhnya meninggalkan perkara yg merosakkan lebih baik daripada berbuat kebaikan. Jangan kebaikan kita sama naik dengan kerosakan.

Suatu hari Sa’ad bermimpi dirinya seperti tenggelam dalam kegelapan. Tiba-tiba muncul bulan memancarkan sinar terang lalu Sa’ad mengikutinya. Dalam pada itu Sa’ad melihat beberapa orang telah mendahuluinya iaitu Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Talib,dan Abu Bakar As-Siddiq. Paginya Sa’ad mendengar Rasulullah SAW mengajak manusia memeluk Islam secara diam2. Sa’ad sedar bahawa ALLAH mengkehendaki kebaikan umtuknya dan akan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya yang terang.Sa’ad segera menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Ketika itu Sa’ad mendapati tiada orang yang mendahuluinya memeluk Islam selain tiga orang yang dilihat dalam mimpi semalam.

***hidayah itu milik ALLAH. Marilah kita berdoa sentiasa,memohon taufik dan hidayah dari ALLAH swt

Apabila ibu Sa’ad mendengar tentang keislaman Sa’ad,ibunya menentang dan memaksa Sa’ad meninggalkan agama baru itu. Jika tidak,ibu Sa’ad akan mogok makan dan minum sampai mati supaya Sa’ad bersedih dan menyesal lalu bertukar kembali ke agama ibu dan ayahnya.Tubuh ibunya menjadi kurus dan lemah,Sa’ad bimbang sesuatu buruk akan menimpa ibunya,namun beliau tetap bertegas dengan pendiriannya. Sa’ad berkata kepada ibunya,”Ibu,sekalipun rasa kasihku kepadamu begitu besar tetapi itu tidak akan mengalahkan cintaku kepada ALLAH dan rasul-Nya. Demi ALLAH,seandainya engkau mempunyai 1000 nyawa dan nyawa itu keluar satu persatu,maka aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku dengan alasan apa sekalipun!” Ibu Sa’ad akhirnya menyerah dan mulai makan dan minum walaupun terpaksa.

***bila kita nak buat kebaikan,sangat banyak halangannya,tp cube kita nak buat perkara2 tak elok,senang je. Tp ketahuilah,sesungguhnya untuk masuk syurga memang byk duri dan ranjau yang kite kene hadapi. Kita wajib pertahankan syahadah kite,itulah perjanjian kite dengan ALLAH sebelum ALLAH benarkan kite pergi ke dunia ni. Bila kita menolong agama ALLAH,ALLAH pasti menolong kita.47:7. ALLAH menolong Sa’ad dgn m’buatkan ibu Sa’ad menyerah,mulai makan dan minum,jd Sa’ad tak risau lg.

Sa’ad merupakan pemanah yang handal. Dalam peperangan Uhud,setelah kaum Quraisy mengalami kekalahan ,sekelompok Muslim meninggalkan posisi yang ditugaskan untuk mengumpul harta rampasan perang,hasilnya Khalid bin Walid yang menyedari peluang ini,menyerang kembali. Dalam pertempuran yang sengit,Rasulullah SAW terluka dan terjatuh tetapi tersebar berita bahawa Rasulullah telah terbunuh.Mendengar berita itu,tentera muslimin patah semangat dan sekelompok muslimin melarikan diri,meninggalkan medan perang. Dalam pada itu,kurang dari sepuluh orang yang masih bersama baginda rasulullah termasuk Sa’ad bin Abu Waqqas. Sa’ad terus berjuang dan melindungi Rasulullah SAW dengan busurnya.Setiap panah yang dilepaskannya pasti mengena sasaran dan orang itu terus menemui ajal.

***setiap orang ada kelebihan tersendiri. Kita boleh aplikasikan kelebihan kita untuk Islam seperti Sa’ad bin Abu Waqqas. Sa’ad handal memanah jadi dia gunakan kemahiran dia untuk memerangi musuh.

Wallahua’lam

from medicdentist